Ironi Air Di Negeri Air..

10 Sep 2013

Kemarau mulai melanda bumi pertiwi ini ya. Berita-berita krisis air mulai terdengar dimana-mana soalnya, hehe. Melihat berita-berita yang tersiar ataupun tertulis dimana-mana, menggambarkan kalau Indonesia mulai memasuki krisis air setiap kemarau melanda. Banyak rakyat yang harus naik-turun tangga reyot demi mendapat air yang terdapat di salah satu sumur di kampungnya. Kembali lagi kerumah dengan membawa air yang tidak banyak. Tidak sebanding dengan perjuangan menahan berat dan kelelahan.

Hampir setiap kemarau, kita mengalami krisis air yang biasanya terjadi, bahkan yang terjadinya hingga luar biasa keringnya. Sawah-sawah kering, air untuk mandi kecil, krisis air bersih dan sebagainya terjadi pada bulan kemarau.

Sebenarnya, ada yang mengganjal pada pikiran saya. Kita adalah negara air. Kita dikelilingi oleh lautan, samudra yang airnya nggak akan habis hingga kiamat datang. Pulau dan perairan luasan perairan. Air dilaut itu nggak akan habis. Emang ada yang mau nguras samudra? Laut? Nggak ada kan? Kalaupun ada, emang bisa? :p || Tapi, kenapa krisis air bersih bisa ada ya? Bukankah kita sudah memiliki alat yang bahkan sudah dijual dipasaran untuk mengubah air kotor menjadi bersih bahkan hingga siap diminum?

Ngomong-ngomong soal krisis air, setau saya gundulnya hutan juga berpengaruh ya? Bukankah pohon menyerap dan menyimpan persediaan air? Bukankah banjir dikarenakan stok pohon juga kurang? Hmm, sepertnya penggundulan hutan harus diperhatikan pemerintah lebih dekat lagi. Kalu tidak, ya harus memberikan fasilitas non alam seperti saluran air yang harus bersih tanpa hambatan dan persediaan air bersih yang banyak untuk tanah, tanaman dan kebutuhan manusia yang lain.

Tak hanya soal penggundulan hutan loh sob, Abrasi pantai menyebabkan rembesan air laut ke daratan, yang pada akhirnya akan mengontaminasi sumber air bersih yang ada di bawah permukaan tanah. Pembuangan sampah yang sembarang di sungai juga menyebabkan air sungai menjadi kotor dan tidak sehat untuk digunakan. Jadi, Indonesia krisis air wajar atau tidak? Ya wajar. Lah, masyarakat dan pemerintah kurang peduli dengan hal-hal kecil yang berdampak besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jadi, yuk! Jaga alam sob, jaga alam mulai dari lingkungan sekitar saja. Konsisten buang sampah pada tempatnya, contohnya :)

Tapi, saya masih aneh. Indonesia memiliki potensi air yang menurut Ditjen Pengairan PU (1994), potensi air permukaan Indonesia lebih kurang 1.789 milyar m3/tahun, dengan sebaran: Irian Jaya 1.401 milyar m3/tahun, Kalimantan 557 milyar m3/tahun dan Jawa 118 m3/tahun. Potensi total air tanahnya 4,7 milyar m3/tahun, tersebar di 224 cekungan air. Sebarannya: 1,172 milyar m3/tahun di Jawa-Madura (60 cekungan), 1milyar m3/tahun di Sumatera (53 cekungan), 358 juta m3/tahun di Sulawesi (38 cekungan), Irian Jaya 217 juta m3/tahun (17 cekungan), Kalimantan 830 juta m3/tahun (14 cekungan) dan sisanya 1,123 juta m3/tahun tersebar di beberapa pulau (Link, 2000).

Dari bagan diatas, dapat dilihat bahwa volume air di udara yang jatuh sebagai hujan cukup berlimpah. Namun ketika hujan mencapai bumi yang menjadi aliran mantap hanya 25% hampir tiga perempat terbuang percuma ke laut. Ini menunjukkan bahwa sumber daya air perlu dikelola dengan cara-cara yang benar. (Koedatie dan Sjarief, 2005)

Nah, jadi semuanya cukup jelas bukan? Krisis air di Indonesia bukan karena kekringan, tetapi karena banyak faktor yang terjadi. Semoga, masyarakat dan pemerintah bisa menjalin sebuah komitmen agar krisis air tidak parah dan tidak akan pernah terjadi lagi. Amiinnn

Sekian, salam pena!

Karawang.


TAGS 30HariNonStopNgeblog headline


-

Author

Follow Me