Budaya Antri? Yuk Marii…

4 Sep 2013

Berita hari ini, 4 september 2013. Adalah tentang ricuhnya pembagian dana BLSM disalah satu berita di chanel televisi swasta. Dalam hati, saya bergumam (cieh :p) “Ini kenapa orang-orang kenapa enggak ngantri aja ya? Padahal kan pasti kebagian. Kalau takut nggak kebagian juga Pak RT udah mengurangi jatah per-orang 50rb untuk yang tidak kebagian nanti”

Jadi ingat sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa seorang guru Australia berkata : “Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Saya yakin, pasti banyak orang tua yang tidak setuju dan merespon : “Loh, kenapa begitu?”

Kemudian, dijawab seperti ini : “Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisaMatematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dan sebagainya.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak”

Begitulah singkat cerita yang saya baca. Sebenarnya, masih panjang. Tetapi, saya mau membahas sendiri tentang Antri tersebut. Boleh ya? :D

Selama ini, jika saya amati tentang kebiasaan orang Indonesia, adalah malas mengantri. Saya tau, rasanya menunggu lama itu menyebalkan dan membuang waktu berharga kita. Itulah yang menyebabkan penyakit malas mengantri ada.

Tetapi, dibalik sikap antri tersebut. Kita mendapatkan banyak manfaat loh :)

1. Kita belajar manajemen waktu : jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Kita belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Kita belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Kita belajar berdisiplin

5. Kita belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri.

6. Kita bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Kita belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Kita belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Kita belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Kita belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Kita belajar bekerjasama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri , ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Kita belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

Banyak orang mengartikan bahwa mengantri hanya membuat waktu berharga tersita. Tau nggak sih kawan? Merasa seperti itu biasanya orang-orang suka menganggap “orang sok penting” , kasarnya. Itulah ujian untuk menjadi manusia yang bisa menghormati orang lain, berlatih bersabar, mengingat bahwa bukan hanya kita yang tinggal di Dunia ini.

Jika melihat masyarakat Indonesia, tertib dan rapi. Rasanya bahagia-bahagia gimanaaa gitu ya. Sekarang, Yuk Mari, dirikan budaya antri di negeri pertiwi ini :)

Jika masih ada yang sebal harus berdiri lama. Kerja sama deh, dengan para pengantri yang lain untuk melakukan hal ini :p

Oke, sekian. Semoga bermanfaat. Salam pena!

Karawang, 4 September 2013 - Fathia Asyafiqah


TAGS 30HariNonStopNgeblog Budaya Antri


-

Author

Follow Me