Pedagang Kecil, Pahlawan Ekonomi Di Saat Krisis…

3 Sep 2013

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e3/Kakilima_street_vendors_in_Jakarta.jpg/300px-Kakilima_street_vendors_in_Jakarta.jpg

Selama ini, sering kali saya mendengar kasus anak sekolah sering nangis gara-gara pekerjaan orang tuanya di ejek-ejek. Sering sekali saya mendengar teman-teman disekolah lain namanya disebut dengan “Woy, anaknya tukang bubur. Sini!” . Toh, apa salahnya dengan pekerjaan tukang bubur? Selama halal dan bisa menghidupi kebutuhan keluarga, kenapa enggak?

Alhasil, saya pernah mendengar salah seorang pelajar, sengaja berbohong dengan mengaku bahwa orang tuanya adalah seorang pegawai negeri sipil tapi ternyata pedagang pecel lele.Ternyata, efek ngejek-mengejek seperti itu menimbulkan rasa malu yang luar biasa tanpa harus berfikir panjang. Apa lagi, masa-masanya anak sekolah adalah masa-masanya labil. Jarang berfikir jauh untuk berbohong.

Sebenarnya, apa salahnya sih? Jika orang tua bekerja menjadi pedagang “kecil” atau pedagang-pedagang yang sering dijumpai dipinggir jalan?

Jangan salah loh. Keuntungan bersih mereka setiap bulan bisa saja melebihi gaji para pejabat. Jangan salah, jangan remehkan para pengusaha kecil. Ketika pemerintah susah menyediakan lapangan pekerjaan, mereka mandiri, dan sekaligus membantu mempekerjakan mereka. Jangan salah juga, bahwa dengan adanya mereka roda perekonomian berputar. Jangan salah, mereka adalah manusia-manusia di Indonesia yang berfikir untuk menjadi wirausahawan, bukan hanya menjadi pekerja atau karyawan.

Nah, penyakit kebanyakan orang Indonesia adalah hanya ingin menjadi karyawan. Ditambah lagi, dengan penyakit gengsi. Takut dibilang orang “kecil” jika berjualan dipinggir jalan atau memulai usaha kecil-kecilan. Apa lagi tuh, para sarjana yang lulusan universitas bagus tapi malah jadi pengangguran. Saya lebih respect dengan orang-orang yang menghilangkan gengsi dari kehidupannya. Tapi, bukan berarti menghilangkan rasa malu ya. Hanya gengsi dan takut dikomentari orang dengan kata-kata yang kata bahasa gaulnya mah “Katro banget lo, jualan kek begituan”

Jadi nggak habis pikir, apa jadinya bangsa ini jika para anak mudanya memikul rasa gengsi kemana-mana? Apa jadinya jika para anak muda hanya berfikir atau hanya ingin menjadi karyawan tanpa memiliki pemikiran menjadi pengusaha? Kalau seperti itu, kasihan pemerintah.

Kasihan? Iya. Pemerintah akan kesusahan untuk mencarikan lapangan pekerjaan untuk para generasi penerus yang hanya berfikir untuk menjadi karyawan. Juga, hanya berfikir untuk mendapat gaji cukup dan selesai. Sepertinya, jika seperti ini hasilnya, Menteri pendidikan harus menambahkan pelajaran baru tentang kewirausahaan.

Itulah, kenapa harus malu memiliki orang tua yang memiliki pekerjaan pedagang yang sering dijumpai dipinggir jalan atau biasanya disebut pedagang kecil?

Tahu nggak sih, pedangan-pedagang kecil itu adalah pahlawan. Pahlawan ekonomi. Tanpa mereka, tanpa inspirasi dari mereka, tanpa ilmu dari mereka, tanpa semangat wirausaha mereka, mungkin saja Indonesia menjadi negara yang dihuni para pekerja dan pengangguran? Mungkin saja Indonesia sudah dalam masa krisis ekonomi.

So? yuk! hilangkan gengsi atau takut diberi tanggapan kampungan atau sebagainya. Lihat manfaatnya. :)

Sekian, semoga bermanfaat. Juga, salam pena!

Karawang, 3 September 2013 - Fathia Asyafiqah


TAGS


-

Author

Follow Me